ORANG BAHAGIA
HARUS BERSAHABAT DENGAN UJIAN
HARUS BERSAHABAT DENGAN UJIAN
Jangan hanya ucapkan :
“WAHAI ALLAH, AKU ADA UJIAN YANG SANGAT BESAR”
Tapi ucapkanlah juga :
“WAHAI UJIAN, AKU ADA ALLAH YANG MAHA BESAR”
Ujian dan cobaan sudah menjadi hal mutlak dalam kehidupan manusia di dunia, sedangkan akhirat adalah tempat bagi kita untuk menerima balasan dari setiap amal perbuatan kita semasa di dunia.
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. al-Anbiyaa’: 35).
Sahabat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu (yang diberi keluasan ilmu tafsir AlQur’an) menafsirkan ayat di atas : “Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan.” (Tafsir Ibnu Jarir).
Kesenangan, kesehatan, kekayaan, dimudahkan menerima rejeki yang halal, diringankan dalam ketaatan dan senantiasa memperoleh petunjuk hikmah adalah termasuk bagian dari ujian, maka perintah Allah Ta’ala adalah agar kita bersyukur.
Kesulitan, ditimpa penyakit, kefakiran, dihadapkan dengan sesuatu yang haram, berada dalam suasana yang mengandung kemaksiatan dan kesesatan adalah termasuk bagian dari ujian, maka perintah Allah Ta’ala adalah agar kita bersabar.
Ujian tidak dapat dihindari, selama kita masih hidup di dunia maka selama itu pula kita akan terus diuji, maka hendaknya kita jadikan ujian sebagai sahabat kita.
Bersyukur dan bersabar merupakan cara yang benar dalam bersahabat dengan ujian, yaitu dengan cara :
- Segera bertaubat memohon ampun kepada Allah Ta’ala
- Memperdalam keyakinan bahwa tidak ada sembahan selain Allah Ta’ala dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah hambaNya dan utusanNya.
- Mendirikan Sholat dengan khusyu’ dan khudhu’.
- Terus menimba ilmu dan melatih potensi diri diikuti dengan kerendahan hati.
- Memuliakan hak saudara sesama muslim, menghormati hak sesama manusia dan menjaga hak sesama makhluq ciptaan Allah Ta’ala.
- Meluruskan keikhlasan niat disetiap amal perbuatan
- Bermanfaat kepada sebanyak-banyaknya orang, berkorban dengan diri dan harta di jalan Allah Ta’ala, menjaga silaturahim, bersedekah disaat lapang maupun sempit.
“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim).
“Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuura : 30).
”Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya.” (HR. Muslim).
“Janganlah kamu mencaci penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi.” (HR. Muslim).
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al Hadid: 22-23).
“Katakanlah (Muhammad), Tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk kami, Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang beriman harus bertawakal.” (QS. At Taubah : 51).
“Tidaklah seorang muslim yang tertimpa gangguan berupa penyakit atau semacamnya, kecuali Allah akan menggugurkan bersama dengannya dosa-dosanya, sebagaimana pohon yang menggugurkan dedaunannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
“Sesungguhnya besarnya pahala itu berbanding lurus dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Siapa yang ridha, maka baginya ridha(Nya), namun siapa yang murka, maka baginya kemurkaan(Nya).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
“YA ROBB,
SESUNGGUHNYA AKU TELAH DITIMPA PENYAKIT
DAN ENGKAU ADALAH MAHA PENYAYANG
DI ANTARA SEMUA PENYAYANG”
(QS. AL ANBIYAA : 83)
